Estafet Kepemimpinan Menuju Generasi Ulul Albab

KEBARONGAN β Yayasan POMESMAWI Kebarongan sukses menggelar acara Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Kepala Madrasah dan Unit untuk Masa Bakti 2026β2030. Acara yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan di Gedung Aula MI WI Kebarongan pada Kamis (9/7/2026).
Acara ini bukan sekadar seremoni serah terima jabatan biasa, melainkan wujud nyata dari estafet kepemimpinan yang memikul amanah, tanggung jawab, dan cita-cita besar yayasan POMESMAWI. Langkah ini sejalan dengan visi utama Yayasan POMESMAWI, yaitu: “Terwujudnya Generasi Ulul Albab yang Senantiasa Memurnikan Aqidah, Mengamalkan Syariβah, Berakhlak Karimah, Mencintai Ilmu Pengetahuan, dan Menebarkan Rahmat bagi Seluruh Alam.”

Dalam momentum bersejarah tersebut, Pembina Yayasan POMESMAWI, Ustadz KH. Ahmas Faiz ‘Asifuddin, Lc., M.A., memberikan orasi sekaligus amanah penting kepada para pengurus baru. Terdapat lima poin utama yang beliau tekankan sebagai landasan dalam memimpin madrasah:
Pertama, Peningkatan Takwa
Beliau mengingatkan agar senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupan. “Karena dengan bertakwa, segala masalah dan urusan akan dimudahkan serta diberkahi oleh Allah SWT,” pesannya.
Kedua, Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Para pendidik didorong untuk terus mencari dan menambah keilmuan tanpa batas waktu. Sebagaimana pesan Imam Ahmad yang masyhur, βMenuntut ilmu itu dari buaian hingga ke liang lahat,β atau dalam pepatah Arab disebutkan:
Ω ΩΩΩ Ψ§ΩΩΩ ΩΨΩΨ¨ΩΨ±ΩΨ©Ω Ψ₯ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩ ΩΩΩΨ¨ΩΨ±ΩΨ©Ω
(Dari tempat tinta/belajar hingga ke liang lahat).
“Jangan pernah berhenti belajar, jadilah pencari ilmu, karena pencari ilmu tidak mengenal batas waktu hingga ajal menjemput,” tegas Ustadz Ahmas Faiz.

Ketiga, Peningkatan Kualitas SDM Asaatidzah
Untuk mewujudkan visi dan misi yayasan, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) harus terus ditingkatkan. Mutu keilmuan dan metode pembelajaran perlu diperbaiki agar lebih efektif dan inovatif. Para asaatidzah (dewan guru) dituntut menjadi teladan yang baik dalam akhlak maupun ibadah, serta wajib mengawal ketercapaian prestasi para santri.
Keempat, Memaknai Jabatan sebagai Amanah
Beliau mengingatkan bahwa jabatan bukanlah sebuah kebanggaan atau kemuliaan semata, melainkan amanah yang harus ditunaikan. Sebagaimana sebuah ungkapan:
Ψ§ΩΩΨ₯ΩΩ ΩΨ§Ψ±ΩΨ©Ω ΩΩΩΩΨ³ΩΨͺΩ ΨͺΩΨ΄ΩΨ±ΩΩΩΩΨ§ ΩΩΩΩΩΩΩΩ Ψ£ΩΩ ΩΨ§ΩΩΨ©Ω
“Kepemimpinan itu bukanlah penghormatan, melainkan amanah.”
Jabatan tersebut harus didedikasikan untuk melayani dan memajukan umat.
Kelima, Mengedepankan Musyawarah
Dalam mengambil keputusan, segala sesuatu hendaknya diputuskan melalui musyawarah, kecuali untuk hal-hal yang sudah pasti hukumnya secara syariat atau sudah menjadi ketentuan baku dari pemberi amanah. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159:
ΩΩΨ΄ΩΨ§ΩΩΨ±ΩΩΩΩ Ω ΩΩΩ Ψ§ΩΩΨ£ΩΩ ΩΨ±Ω Ϋ ΩΩΨ₯ΩΨ°ΩΨ§ ΨΉΩΨ²ΩΩ ΩΨͺΩ ΩΩΨͺΩΩΩΩΩΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
Pelantikan pimpinan baru ini menjadi bukti konkret bahwa Yayasan POMESMAWI Kebarongan terus bergerak, berbenah, dan berkomitmen untuk memberikan pendidikan terbaik bagi generasi bangsa dan agama.
Di akhir acara, yayasan menitipkan pesan mendalam. Kepada para pemimpin yang baru dilantik, tongkat estafet ini adalah amanah besar untuk mendidik, mengayomi, dan memajukan madrasah. Sementara itu, kepada para pemimpin yang telah purna tugas, yayasan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas segala dedikasi, pengabdian, dan jasa-jasa yang telah diberikan selama masa jabatannya.




