KEBARONGAN — Panas matahari Ahad pagi, 23 Agustus 2026, membakar hamparan rumput Lapangan Desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas. Semua mata tertuju pada panggung utama saat Kepala Desa Muhammad Harun melangkah maju. Dengan satu kibasan tegas bendera Karang Taruna di tangannya, riuh ribuan warga serentak pecah. Karnaval Kemerdekaan Republik Indonesia resmi diberangkatkan.
Menempati posisi pembuka bukan sekadar kebetulan giliran. Pemerintah Desa Kebarongan secara khusus menaruh amanah besar di pundak santri: meminta regu Drumband Gita Wathoni dari MA Wathoniyah Islamiyah (MAWI) Kebarongan sebagai penghela utama rombongan. Desa butuh pengatur tempo dan pembakar semangat, dan Gita Wathoni adalah jawabannya.
Di bawah kawalan personel TNI Kemranjen, deretan personel melangkah kompak dengan seragam oranye kombinasi jarit batik yang anggun. Di sisi jalan, tampak Nurul Qodariyah (Ibu Nunung), sang pelatih berkerudung ungu, berjalan kaki tanpa henti mendampingi santri-santrinya. Matanya awas, memastikan setiap pukulan snar dan alunan melodi pianika tetap harmonis.
Tepat di belakang mereka, barisan mulai mengalir rapi:
- Santri MAWI Kebarongan bersama barisan Petugas Keamanan Sekolah (PKS), Palang Merah Remaja (PMR) berompi merah, Pramuka serta IPMAWI berjas almamater hitam yang dikawal langsung Waka Kesiswaan, Ustadz Khoerul Anam,
- Rombongan Drumband MTsWI beserta barisan Santri,
- Iring-iringan formal Kepala Desa bersama jajaran Perangkat Desa Kebarongan dan PASKIBRA
- Kekompakan ibu-ibu PKK, deretan armada odong-odong hias yang semarak, hingga parade kebudayaan kreatif perwakilan tiap RT.
Ketika arak-arakan mulai melintas komplek madrasah, sebuah pemandangan yang memikat tersaji. Para ustadz, ustadzah, karyawan, dan ratusan santri tampak berdiri berjajar di pinggir jalan menyambut rombongan dengan tepuk tangan meriah.
“Untuk kegiatan karnaval, tidak semua santri kami terjunkan ke jalan,” tutur Ustadz Nengklif Saberi di tengah riuh Karnaval. Partisipasi santri dirancang sangat terukur: hanya perwakilan ekstrakurikuler inti (Pramuka, PMR, PKS, IPMAWI) serta dua orang perwakilan tiap kelas yang mengenakan pakaian sesuai tema panitia desa.
Lalu bagaimana dengan santri yang tidak ikut pawai? Dengan senyum khasnya, Ustadz Nengklif memberi jawaban yang menyejukkan:
“Santri yang lain tetap menjalankan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Tapi begitu rombongan lewat, kami sama-sama menghormati… dengan ikut keluar dan menonton Karnaval.”
Di sanalah letak bijaksananya: madrasah tetap membuka pintu selebar-lebarnya untuk merayakan kegembiraan bersama warga desa.
Pawai boleh saja berlalu dan rekaman video singkat di medsos akan tenggelam dalam hitungan hari. Namun, kebersamaan antara santri MWI dan tanah Kebarongan hari ini meninggalkan jejak yang lebih bermakna: tentang bagaimana tradisi santri selalu hadir mengisi denyut nadi kemerdekaan di tengah masyarakatnya.
-hd-














